Malam itu, Los Angeles terasa lebih tenang dari biasanya. Edward membawaku ke balkon pentahouse yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota yang membentang bak permadani berlian. Udara malam yang sejuk menyapu wajahku, namun hangat jemari Edward yang menggenggam tanganku membuat segalanya terasa selaras. Sejak kepulanganku dari Santa Barbara, ada keheningan yang berbeda di antara kami. Bukan keheningan yang canggung, melainkan sebuah kedamaian yang matang. Edward, dengan ketajaman instingnya, seolah tahu bahwa aku telah melewati sebuah badai internal dan keluar sebagai wanita yang baru. "Selena," panggilnya lembut. Suaranya rendah, penuh dengan resonansi yang selalu berhasil menenangkan sarafku yang tegang. Aku menoleh, mendapati tatapannya yang teduh terkunci padaku. Di bawah cahaya bulan yang pucat, wajah Edward tampak begitu tulus. Tidak ada kegelapan di sana, tidak ada rahasia yang mengancam, hanya ada kejujuran yang murni. "Selama ini, aku membiarkanmu berjalan di k
더 보기