Edward datang siang itu. Seperti biasa ia mengajakku makan siang bersama, aku merasa seperti berjalan di atas hamparan kaca. Suasana ruang makan yang biasanya tenang, kini dipenuhi dengan keheningan yang tajam. Aku menunduk, fokus pada kopi yang sudah dingin di cangkirku, berusaha keras untuk tidak melihat ke arah sudut ruangan di mana kursi roda Nickollas berada. Namun, aku bisa merasakan tatapannya. Itu bukan tatapan dingin seperti biasanya, itu adalah tatapan yang sarat dengan pengetahuan akan apa yang terjadi semalam, tatapan penuh posesif yang membuat kulitku meremang. Edward, yang sejak tadi mengamati kami dengan mata elang, meletakkan pisau sarapannya dengan denting yang cukup keras. Ia tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kau tampak lelah, Sayang," ujar Edward dingin, suaranya sengaja dikeraskan agar memenuhi ruangan. Ia berdiri, berjalan memutar meja, lalu dengan gerakan yang sedikit terlalu posesif, ia menarik kursiku dan merangkul bahuku. Tangannya
続きを読む