Pintu mobil tertutup rapat, meredam kebisingan dari kerumunan mahasiswa yang masih sibuk memotret dari balik kaca film yang gelap. Di dalam kabin Rolls-Royce itu, aroma sandalwood yang tajam dan dingin langsung menyergapku, aroma yang semalam membuatku sesak, namun kini anehnya terasa seperti satu-satunya hal yang nyata. Nickollas tidak segera menjalankan mobil. Ia mencengkeram kemudi, buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, menatap lurus ke depan seolah sedang menahan badai di dalam kepalanya. "Kenapa, Nick?" suaraku serak, nyaris tak terdengar. "Kenapa kau melakukan ini? Kau tahu mereka akan menggila. Kau baru saja memberikan mereka umpan untuk menghancurkanmu, dan aku, lebih parah lagi." Nickollas menoleh perlahan. Ia melepas kacamata hitamnya, menyingkap mata biru yang tampak begitu lelah, seolah ia belum tidur sejak aku pergi semalam. "Karena Julian Vance," jawabnya pendek, suaranya berat dan penuh ancaman. Aku terkesiap. "Asisten dosen itu, kau mengenalnya? Apa hubun
Read more