Elias menunjuk ke arah gubuk kecil di kejauhan yang atapnya tertutup salju tebal. "Di sana ada kedai kopi kecil milik bibiku. Kopi mereka lebih hangat daripada hati turis di pusat kota," selorohnya, mencoba mencairkan suasana. Aku tertawa kecil. Tawa yang benar-benar lepas, bukan tawa palsu yang biasa kupamerkan di depan kamera. Anna menatapku dengan senyum puas, seolah berkata, 'Tuh, kan? Apa kubilang.' "Ayo," ajak Anna antusias, menarik lengan bajuku. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang menurun. Elias berjalan di depan, sesekali berbalik untuk memastikan kami tidak terpeleset di jalanan es. Dia sederhana, sopan, dan sama sekali tidak tahu siapa aku. Baginya, aku hanyalah Selena, seorang gadis yang butuh pelarian ke pegunungan. Saat memasuki kedai kopi bibi Elias, hangatnya perapian kayu langsung memeluk tubuh kami. Tempat itu kecil, berdinding kayu gelap, dan beraroma kopi panggang serta kayu manis. "Duduklah di dekat api," ujar Elias sambil menggeser kursi kayu unt
Read more