Dia tidak turun, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat integritas yang baru saja kubangun terasa goyah. Orang-orang mulai berbisik. Aku menghampiri mobil itu dengan perasaan campur aduk. "Aku sudah bilang, jangan menjemputku lagi di kampus, Nick," desisku saat berdiri di samping pintunya. “Aku ada di sini karena kau sudah beberapa hari menghilang. Katakan padaku, apa kau memang sengaja menghindariku seperti ini, sampai kapan kau akan lari, Selena?” Tanganku mengepal di sisi tubuh. "Aku tidak lari. Aku hanya sibuk dengan tugas akhirku.” Aku beralasan, tak berani menatap mata Nickollas secara langsung. Nickollas menatapku lama, lalu ia mematikan mesin mobilnya. Ia keluar, mengabaikan tatapan mata puluhan mahasiswa yang kini berkumpul di kejauhan dengan ponsel terarah pada kami. Lalu ia melangkah maju, perlahan, seolah takut aku akan terbang menjauh jika ia bergerak terlalu cepat. "Kau bahkan tidak berani menatap mataku hari ini. Apakah malam itu begitu mengerikan bagimu hi
Read more