Kartu undangan di tanganku terasa dingin dan berat, kontras dengan jemariku yang masih sedikit gemetar. Aku menatap lamat-lamat ukiran emas di atas kertas hitam itu. Festival Film Internasional. Sebuah dunia yang penuh dengan lampu kilat, senyum palsu, dan kerumunan orang, segala hal yang ingin kuhindari saat ini. Namun, kata-kata Nickollas terus bergema di kepalaku: Jadilah Selena yang berani, bukan Selena yang bersembunyi. Aku menutup pintu kamar perlahan, menyandarkan punggungku di sana. Mataku beralih ke layar laptop yang masih menyala, menampilkan draf surat lamaran untuk firma hukum itu. Ada dua jalan di hadapanku: rencana kemandirian yang sedang kususun dengan hati-hati, atau tawaran Nickollas untuk langsung melompat kembali ke tengah serigala. "Satu malam," bisikku pada kesunyian kamar. "Hanya satu malam." ... Pintu kamarku diketuk perlahan keesokan sorenya, tepat saat matahari mulai menyelinap di balik cakrawala, menyisakan semburat jingga yang masuk melalui celah go
Read more