Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan pria itu mendekat lagi. Selama seminggu, dia mencoba menghubungiku lewat pesan, telepon, hingga mengirimkan kurir dengan buket bunga yang langsung kuperintahkan untuk dibuang ke tempat sampah. Bagiku, dia adalah luka yang sedang kubiarkan menutup.Namun, Nickollas Stanley tidak pernah mengenal kata menyerah.Sore itu, di apartemenku, ia berhasil menerobos masuk melalui lobi. Dia berdiri di depan pintu unitku. Ruangan itu mendadak sunyi, seolah oksigen tersedot habis saat pintu apartemenku terbuka. Dia tidak lagi tampak seperti aktor besar ataupun CEO yang tak tersentuh dengan jas seharga ribuan dolar yang menempel sempurna. Bahunya merosot, matanya yang dulu setajam elang kini tampak keruh, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam. Dia tampak seperti pria yang baru saja kalah perang—perang melawan obsesinya sendiri."Aku tidak butuh penjelasanmu, Nickollas," ucapku dingin. Suaraku tidak bergetar, aku telah belajar membeku
더 보기