"Sah."Kata itu menggema di telinga Syifa. Bagi orang lain, itu adalah gerbang menuju kebahagiaan. Bagi Syifa, itu adalah suara sel penjara yang dikunci rapat. Ia tidak bergerak untuk mencium tangan Dewangga, tidak pula sudi menatap wajah pria yang kini secara hukum adalah suaminya. Baginya, dunia sudah selesai saat tinta pena itu mengering di atas kertas.Di dalam mobil mewah yang membelah jalanan, Syifa menatap buku nikah di pangkuannya. Sebuah dokumen yang dipaksakan, sebuah ikatan yang lahir dari tumpukan rahasia dan air mata."Suatu saat, aku ingin merayakan ini dengan megah. Tapi untuk saat ini, cukup kita yang tahu. Kamu tidak keberatan, bukan?" suara Dewangga memecah keheningan, terdengar begitu tenang. Keberatan? Syifa tertawa dalam hati. Keberatan adalah kata yang terlalu lemah untuk menggambarkan kemuakan yang mengaduk perutnya. Ia ingin lari, namun semakin ia meronta, semakin kuat tali tak kasat mata yang mengikat lehernya.
Read more