"Jon, kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Dewangga. Tangannya masih sibuk menandatangani map, sementara ponselnya ia jepit di antara telinga dan bahu.Ini sudah lewat dua puluh empat jam, dan ia tidak punya niat sedikit pun untuk membiarkan pelakunya tidur nyenyak. Sekalipun firasatnya sudah tertuju ke satu arah yang sangat spesifik."Tuan Muda Cleo dan Zero, Tuan," jawab Jon dari seberang telepon.Dewangga tidak terkejut. Tidak ada keraguan, hanya ada amarah yang kini membeku menjadi keputusan mutlak. Ia mematikan sambungan telepon sepihak, lalu segera mendial nomor asisten pribadinya yang lain."Hans, pastikan putus semua akses keuangan anak-anakku, Cleo dan Zero. Blokir semuanya tanpa pengecualian.""Tuan, maaf sebelumnya... bagaimana dengan uang semester akhir mereka? Mereka sedang menghadapi skripsi dan biaya kelulusan dalam waktu dekat," Hans terdengar cemas di ujung sana."Terserah. Mereka mau jadi gembel atau kerja paruh waktu di sana, aku tidak peduli," ucap Dewangga
Read More