"Jangan dimasukkan hati, Syifa," bisik Bi Sumi sambil mengusap bahunya ketika mereka sudah didapur."Tuan muda memang begitu sejak kecil. Keras kepala." Ucap Bi sumi. Syifa hampir mengiris jarinya sendiri kalau dia tidak segera merebut pisau itu."Mereka kenapa harus pulang sih, Bik? Bagaimana kalau nanti Ibu sudah sembuh dan harus bekerja untuk dua orang seperti itu lagi? Aku tidak bisa bayangkan, Bik... Ibu pasti sangat menderita lahir dan batin selama bertahun-tahun melayani mereka." Syifa membayangkan ibu nya, sambil mengusap sudut mata nya dengan jemarinya. "Aduh, Non, tidak usah sedramatis itu ya," ucap Bi Sumi menenangkan. "Ibumu, Rokayah, sudah terbiasa dengan mereka dulu. Dia itu wanita yang kuat. Apapun tindakan mereka, tidak pernah ia masukkan ke hati. Terserah mulut mereka bicara sekasar apa, tapi setahu Bibi, kedua pria itu tidak pernah melakukan kekerasan fisik di rumah ini. Mereka hanya... yah, sulit dikendalikan." Terang bi Sumi sambil mengaduk sup di atas kompor."M
Dernière mise à jour : 2026-01-11 Read More