“Empat kali ya, Kak,” lirih Kiara. Wajahnya terlihat frustasi.“Ada apa lagi Ara?” “Kakak … nggak pake pengaman,” sahutnya lirih, “gimana kalo Ara … hamil, Kak?” Hanson meremas tangan Kiara dengan lembut. “Kalau hamil bisa semudah itu, nggak bakal ada istilah pejuang garis dua, Ara.” “Tapi Kak ….” Kiara hampir menangis saking kesalnya. “Gimana kalo Ara tipe yang subur? Ara nggak mau hamil duluan, Ara nggak siap kena marah Nenek.” Hanson melepaskab genggaman tangannya. Ia membawa mobilnya masuk ke dalam halaman rumah dan memarkirnya di dalam garasi, tepat di antara kedua mobilnya yang lain. Ia menatap Kiara yang masih terlihat panik. Lelaki itu meremas pundak Kiara seolah hendak memberinya sugesti. “Ara, apapun yang terjadi … aku tetap akan menikahimu. Dengan restu ataupun tanpa restu, kamu tetap akan jadi satu-satunya nyonya keluarga Luminto.” Hanson baru saja akan turun dari mobilnya, saat Kiara kembali memanggil namanya. “Kak–”Hanson langsung menoleh. Bayang rasa takut itu
Read more