“Kakak, cemburu sama Arga, ya?” Kalimat itu masih terngiang di telinga Hanson. Ia masih ingat semua kejadian canggung semalam, ketika Kiara dengan tiba-tiba mengecup bibirnya. Lembut dan hangat bibir dengan aroma strawberry itu bahkan masih membekas di bibirnya. Hanson mendengus pelan. Tangan kanannya menuang serbuk kopi ke dalam mesin lalu menekan tombol on. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Ia langsung bisa menebak pemiliknya. “Ara, jangan di sini. Gimana kalau nenek liat.”“Kakak, Ara nggak ke tempat syuting dulu, ya hari ini,” rengek Kiara, “aku takut … preman-preman itu datang lagi.” Hanson memutar tubuhnya, menatap wajah lesu gadis di hadapannya. Ia meraih pinggangnya dan mengangkat tubuhnya mendudukkannya di atas meja.“Katakan, preman-preman apa maksudmu.” “Pacar Kakak itu, cemburu nggak abis-abis sama Kiara. Dia bahkan kirim tiga preman buat melecehkan dan bunuh Kiara,” cicit Kiara, “semalam … Kiara nunggu Kakak buat ceritain semuanya. Dan Beckie … dia
Read more