Pagi itu, suasana di kediaman utama Cameron terasa mencekam. Sinar matahari yang menembus jendela besar di ruang tamu tidak mampu mencairkan kebekuan atmosfer di sana.Viona sudah bersiap dengan tas selempang dan pakaian kasual yang rapi, melangkah menuju pintu depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah tangga.Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh gagang pintu, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah koridor.Davian muncul dengan penampilan yang sangat kontras dengan kemewahan rumah itu. Kemejanya kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak kuyu.Tanpa menyapa, Davian langsung menyambar pergelangan tangan Viona, menahannya dengan genggaman yang cukup kuat. “Kau mau ke mana sepagi ini?” tanya Davian, suaranya serak dan sarat akan kecurigaan.Viona tidak membalas tatapan itu. Dia hanya menunduk, melihat tangan Davian yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu dengan gerakan perlahan namun tegas, dia melepaskan cengkeraman itu.“Aku mau ke toko seni. Ada beb
Read more