"Oke, kalau kamu nggak mau nurutin aku, kita putus!"Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Aloy, dingin dan tanpa keraguan sedikit pun.Niar terdiam. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang keras. Ia bahkan belum sempat menjawab ketika Aloy sudah berdiri dari sofa.Tanpa menoleh lagi, lelaki itu berjalan menuju pintu apartemen."Mas Aloy," panggil Niar pelan.Namun, Aloy tidak berhenti. Tangannya langsung membuka pintu, lalu keluar begitu saja. Pintu apartemen tertutup dengan suara keras.Brak!Niar berdiri mematung di ruang tamu kecil itu. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ia tahan.Ia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.Ia sudah mempertaruhkan segalanya, bahkan sampai menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya. Namun, bagi Aloy, semua itu seolah tidak ada artinya. Yang penting hanya uang.Sementara itu, di luar apartemen, Aloy berjalan cepat menuju parkiran dengan wajah kesal. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal."Dasar perempuan keras kepala," gumamny
Read more