Malam semakin larut ketika sayembara resmi ditutup. Lampu-lampu panggung satu per satu diredupkan, para kru mulai membereskan peralatan, dan peserta yang sejak siang menunggu dengan harap-harap cemas kini pulang dengan wajah beragam. Ada yang kecewa, ada yang pasrah, ada pula yang masih menyimpan mimpi. Di antara keramaian yang perlahan mencair itu, satu nama menggantung kuat di benak Teddy, yaitu Charol. Teddy berdiri sejenak, menatap panggung yang kini kosong. Detak jantungnya masih belum sepenuhnya tenang. Suara itu, suara Charol masih terngiang jelas, seperti gema yang menolak pergi. Ia menarik napas panjang, lalu memberi isyarat pada Jojo untuk memanggil perempuan itu. Charol menunggu di sisi panggung, berdiri tenang dengan tangan terlipat di depan. Wajahnya tetap sederhana, tanpa raut euforia berlebihan seperti kebanyakan peserta lain. Ketika Teddy mendekat, ia mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis, senyum yang sopan, terukur, dan menyimpan sesuatu yang tak mudah
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya