Satu minggu berlalu. Waktu terasa cepat bagi sebagian orang. Namun, bagi Aloy minggu itu terasa seperti penantian panjang yang penuh harapan.Harapan akan uang, harapan akan perubahan nasib, dan tentu saja harapan akan tiga miliar.Pagi itu, langit terlihat cerah. Aloy berdiri di depan rumah megah milik Geral. Ia menatap bangunan itu cukup lama. Rumah dengan pagar tinggi, halaman luas, dan mobil-mobil mewah terparkir rapi di dalamnya.Ia merapikan bajunya, menarik napas dalam, lalu menekan bel. Tak lama pintu terbuka.Seorang asisten rumah tangga menyambutnya. "Silakan masuk, Pak. Tuan sudah menunggu."Aloy mengangguk. "Terima kasih."Ia melangkah masuk, matanya langsung bergerak ke sana kemari. Interior rumah itu sungguh mewah, elegan, dan mahal. Sangat jauh dibandingkan dengan rumah yang ia miliki sekarang.Beberapa saat kemudian, Geral muncul dari arah ruang tengah. Ia mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat berkelas."Halo Aloy, kita ketemu lagi," sapanya singkat.Aloy lang
Read more