Nada suara keduanya mengandung keterkejutan.Charol menatap mereka berdua.Sekilas, ia tampak ragu.Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun, ia menahannya."Apa aku cerita saja, ya, ini sudah keterlaluan," batinnya.Ia menghela napas pelan.Dalam pikirannya, ia mulai menimbang.Apakah ini saat yang tepat?Atau, ia harus tetap memainkan semuanya sesuai rencana?Sebelum Charol sempat membuka suara, Teddy lebih dulu bertanya. "Eh, Charol," ucapnya hati-hati.Charol menoleh. "Iya, Pak?"Teddy menunjuk ke arah tangan Charol."Maaf, kamu kok bisa punya cincin itu, beli di mana?"Pertanyaan itu membuat Charol terkesiap.Matanya langsung tertuju pada cincin giok yang melingkar di jarinya.Beberapa detik, ia hanya diam. "Ini kan memang cincinku, aku memesannya di toko mas dekat rumahku dulu," batinnya.Tatapannya beralih ke Teddy. Ia menatap cukup lama, seolah mencoba membaca isi pikiran pria itu."Sepertinya Pak Teddy bisa aku ajak kerja sama," batinnya lagi.Ia menyadari sesuatu. Tatapan Te
Read more