Keesokan harinya, aku menceritakan kejadian ini kepada sahabatku di sebuah bar.Setelah mendengar ceritaku, sahabatku meneguk segelas anggur merah lalu berkata dengan nada bicara yang serius."Ini jelas bukan salah kamu, kamu juga nggak sengaja."Aku berkata pelan, "Tapi aku memang merasa enak, waktu itu aku hampir saja duduk di atasnya."Sahabatku menghentakkan gelasnya ke meja, menatapku dengan mata membelalak. "Sadar sedikit, dong, masa korban pelecehan masih dituntut buat nggak ngerasa apa-apa? Itu reaksi tubuh, bukan berarti kamu mau selingkuh."Dia menggenggam tanganku dan berkata dengan tegas, "Kamu nggak salah, yang salah itu bosmu. Dia yang melampaui batas, kamu cuma korban. Jangan hukum diri sendiri karena kesalahan dia."Aku ikut meminum segelas alkohol sambil merenungkan perkataan sahabatku. Sepertinya dia benar, bagaimanapun yang bersalah adalah bosku.Lagi pula kalau dipikir lebih jauh, bos itu jelas melakukan tindak kriminal. Kalau aku melapor ke polisi, dia benar-benar
Ler mais