LOGINKenapa sahabatku justru berdiri di pihak suamiku?Bukankah dia yang menyarankanku untuk melakukan hal ini dengan bos?Suamiku merangkul pinggang ramping sahabatku, matanya dipenuhi dengan tatapan cinta."Sayang, untung kamu ngasih tahu aku, kalau nggak aku bakal terus dibohongi."Apa!Suamiku memanggilnya sayang.Ternyata kalian sudah bersekongkol sejak awal, menggunakanku untuk memancing reaksi bos.Dalam kekalutan, aku tiba-tiba mengerti kenapa sahabatku terus mendorongku menggoda bos.Aku berdiri terpaku, kedua kakiku melemas karena terkejut.Sahabatku menggandeng lengan suamiku, menatapku dengan raut wajah pemenang."Aku jujur saja, waktu di tempat pijat itu, akulah yang nyuruh bosmu datang ke sana buat ketemu kamu, kejadian setelahnya persis seperti yang kuduga."Aku terkejut hingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Jadi, ternyata sahabatku sudah merencanakan jebakan ini untuk menjatuhkanku sejak lama.Tapi kenapa dia melakukan ini?Aku tidak tahan untuk bertanya, "Kamu s
"Biar aku yang ambilin, kamu sudah kelihatan semuanya."Aku tersenyum dan berkata, "Kenapa harus takut kelihatan kamu? Waktu itu 'kan sudah kamu lihat semuanya?"Bos tersenyum tipis lalu menepuk pantatku pelan."Pintar juga ya? Nanti mampir ke kantorku sebentar."Perkataan bos itu sudah merupakan isyarat yang sangat jelas, mana mungkin aku tidak mengerti maksudnya?Pergi ke kantornya jelas bukan untuk membahas pekerjaan, pasti untuk hal semacam itu.Kalau dulu, aku pasti menolak, bahkan mungkin meremehkannya.Namun, sekarang situasinya sudah berbeda, perkataan sahabatku kembali terngiang di telingaku."Walau kamu tidur sama dia sekali pun, kamu nggak akan rugi."Aku menarik rokku sedikit lebih tinggi lagi hingga pangkal pahaku terlihat.Dengan penuh keyakinan, aku melangkah menuju kantor bos.Baru saja pintu terbuka, aku mendapati dia sudah tidak sabar dan celananya hampir terlepas.Melihat aku datang, dia duduk di kursi dan melambaikan tangan memanggilku mendekat."Waktu di tempat pij
Setelah hari itu, aku mulai sengaja tidak sengaja berdandan lebih cantik. Aku mengganti sepatu hak tinggiku dengan model yang lebih ramping, ujung rokku pun sengaja kunaikkan beberapa sentimeter.Setiap kali bos melewati meja resepsionis, dia akan menatapku lebih lama, sesekali meninggalkan pujian yang bernada menggoda.Dasarnya aku memang memiliki paras yang segar dengan lekuk tubuh yang sintal, kaki jenjang, dan pinggang ramping. Ditambah dengan dandananku yang sengaja dibuat menonjol, seluruh penampilanku menjadi jauh lebih menggoda. Dulu aku selalu berusaha menutupi bentuk tubuhku karena takut mengundang tatapan yang tidak diinginkan, tapi sekarang aku justru mulai menikmati perhatian itu.Aku bahkan mulai menantikan pertemuan singkat dengan bos setiap harinya. Getaran tersembunyi yang bercampur rasa bersalah itu membuatku ketagihan.Angka di slip gajiku memang belum berubah, tapi aku tahu itu hanya masalah waktu. Perasaan ini membuatku merasa sangat gugup sekaligus bersemangat.Re
Keesokan harinya, aku menceritakan kejadian ini kepada sahabatku di sebuah bar.Setelah mendengar ceritaku, sahabatku meneguk segelas anggur merah lalu berkata dengan nada bicara yang serius."Ini jelas bukan salah kamu, kamu juga nggak sengaja."Aku berkata pelan, "Tapi aku memang merasa enak, waktu itu aku hampir saja duduk di atasnya."Sahabatku menghentakkan gelasnya ke meja, menatapku dengan mata membelalak. "Sadar sedikit, dong, masa korban pelecehan masih dituntut buat nggak ngerasa apa-apa? Itu reaksi tubuh, bukan berarti kamu mau selingkuh."Dia menggenggam tanganku dan berkata dengan tegas, "Kamu nggak salah, yang salah itu bosmu. Dia yang melampaui batas, kamu cuma korban. Jangan hukum diri sendiri karena kesalahan dia."Aku ikut meminum segelas alkohol sambil merenungkan perkataan sahabatku. Sepertinya dia benar, bagaimanapun yang bersalah adalah bosku.Lagi pula kalau dipikir lebih jauh, bos itu jelas melakukan tindak kriminal. Kalau aku melapor ke polisi, dia benar-benar
Sisa kewarasanku memperingatkan bahwa suamiku ada di belakang sana, aku benar-benar tidak boleh melakukan hal semacam itu.Karena ketakutan, aku refleks menarik tubuhku ke belakang, dan kepalaku justru terlepas dari jeratan itu.Aku meronta sekuat tenaga dari cengkeraman lengan pria itu hingga akhirnya terjatuh ke lantai dengan keras.Pantatku terasa sangat sakit akibat benturan tersebut.Pria itu menunduk untuk membantuku berdiri. Saat itulah cahaya lampu yang redup menyapu wajahnya dengan jelas.Pria itu bukan orang lain, melainkan bosku sendiri.Selama ini dia selalu terlihat sangat terhormat di kantor, tak kusangka di balik layar dia juga datang ke tempat seperti ini.Yang lebih gawat lagi, dia tadi hampir saja memperkosaku.Rasanya seperti disambar petir di siang bolong, kepalaku berdengung keras.Bos ini biasanya memperlakukanku dengan baik, sekarang bagaimana aku harus menghadapi situasi ini?Dibantu cahaya lampu yang remang-remang, bos sepertinya mulai mengenali wajahku.Dengan
Ini, ini lidah ... pria itu?Dia menjilat dari pangkal pahaku, perlahan naik sedikit demi sedikit.Begitu menyadari apa yang ingin dilakukan pria itu, hatiku justru merasakan sebuah sensasi rangsangan.Suamiku ada tepat di depanku, sedang bercumbu panas dengan wanita lain.Akal sehatku mengatakan bahwa aku seharusnya menghentikan pria ini.Namun, perasaan yang sudah lama hilang ini ... rasanya ... sungguh menggairahkan dan nikmat.Seluruh darahku seakan mendidih, sel-sel di tubuhku seperti meledak karena sensasi yang hebat.Bagaimanapun juga ini tempat umum, pria ini seharusnya tidak sampai melakukan hal sejauh itu padaku, 'kan?Memikirkan hal itu, aku menenangkan diri dan perlahan menikmati sensasi dilayani dengan mulutnya.Kedua tangan pria itu menahan pantatku, lidahnya berputar liar di pangkal pahaku.Dia benar-benar ahli. Dia mengenai titik sensitifku hingga aku merasa ada aliran hangat yang mulai merembes keluar dari dalam tubuhku."Harumnya enak banget, lembut, rasanya bahkan l







