Share

Malam Saat Aku Terjepit di Pagar
Malam Saat Aku Terjepit di Pagar
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Merry Lusia. Aku bekerja sebagai resepsionis hotel, aku juga seorang istri yang kesepian.

Namun, suamiku sudah lama sekali tidak menyentuhku.

Padahal aku tipe wanita dengan gairah yang cukup tinggi. Kalau dibiarkan terlalu lama, rasanya seluruh tubuhku seperti digerogoti semut hingga ke sumsum tulang, gatalnya terasa tak tertahankan.

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Entah itu dadaku yang penuh dan lembut, atau lekuk pantatku yang indah, semuanya tampak seperti tipe yang akan membuat pria sulit melepaskan pandangan.

Namun, setiap kali aku mencoba menggoda suamiku dan mengerahkan segala cara untuk memikatnya, dia hanya menatapku dingin lalu berbalik membelakangiku untuk tidur.

Intuisiku mengatakan bahwa dia pasti berselingkuh.

Aku mulai menyelidiki gerak-geriknya secara diam-diam hingga akhirnya aku menemukan bahwa belakangan ini dia sering mengunjungi sebuah tempat pijat.

Suatu hari, aku membuntutinya secara sembunyi-sembunyi.

Sesampainya di sana, suamiku dengan santai merangkul seorang wanita seksi dan masuk ke dalam kamar privat. Tak lama kemudian, suara-suara erotis mulai terdengar dari dalam.

Aku baru saja hendak menyerbu masuk untuk melabrak mereka, tapi tiba-tiba leherku tersangkut di antara celah pagar dan tidak bisa ditarik keluar.

Karena panik, aku menggoyangkan tubuhku dengan kuat sehingga kedua belah pantatku ikut bergoyang mengikuti gerakan tubuhku.

Aku datang terlalu tergesa, masih mengenakan rok kulit dengan stoking hitam yang belum sempat kuganti.

Di bawah sorotan lampu neon warna-warni dari tempat pijat itu, penampilanku terlihat sangat seksi.

Tepat pada saat itu, seorang pria tiba-tiba berjalan mendekat dari arah belakangku.

"Wah, apa ini boneka baru? Pantatnya montok juga ya!"

Aku terkejut bukan main. Dari nada bicaranya, sepertinya dia menganggapku sebagai salah satu boneka pajangan di tempat pijat ini?

Rasa malu yang luar biasa menyergapku karena membiarkan orang lain melihatku dalam posisi seperti ini.

Aku makin panik, berusaha meronta sekuat tenaga, yang justru membuat gerakan bokongku makin liar.

"Pintar sekali goyangnya! Apa ini cara baru untuk menarik pelanggan?"

Suaranya terdengar makin dekat, membuat jantungku seolah mau melompat keluar.

Detik berikutnya, aku merasakan sepasang tangan besar yang hangat dan kering menyentuh paha daku!

Tangan itu terasa kasar, jelas sekali milik seseorang yang terbiasa melakukan pekerjaan berat.

Bahkan, tangan itu terus bergerak merayap ke atas dan menyelinap masuk ke dalam rok pendekku!

Aku seorang resepsionis hotel, jadi saat bekerja aku mengenakan rok pendek kulit dengan stoking hitam, di dalamnya aku hanya memakai pakaian dalam yang sangat tipis.

Begitu dia meraba, tangannya langsung menyentuh belahan pantatku!

"Sangat pas di tangan, sensitivitasnya juga bagus."

Aku menggigit bibirku erat-erat, tidak berani mengeluarkan suara.

Kalau orang sampai tahu bahwa aku, seorang wanita baik-baik, dianggap sebagai boneka pemuas nafsu, maka hancur sudah harga diriku!

Yang lebih memalukan lagi, kedua tangannya mulai menarik stokingku!

Stoking yang kupakai memang sangat elastis, ditarik sedikit saja langsung melorot!

"Tempat ini hebat juga ya, ada boneka dengan kostum seragam hotel. Rasanya kayak lagi ngelepas stoking pegawai hotel."

Aku merasa panik dan kacau, tapi tidak berani bicara, hanya bisa menegangkan seluruh tubuhku.

Detik berikutnya, stokingku sudah ditarik sampai ke pangkal paha.

"Seksi banget, ternyata pakai thong."

Hasratku memang kuat, suamiku juga tidak pernah membantuku, aku memakai thong semata-mata supaya mudah menenangkan diri kapan saja.

Tidak kusangka, sekarang semuanya justru terlihat jelas oleh orang lain.

Sekarang aku harus bagaimana? Aku berusaha keras menarik kepalaku, tapi makin ditarik malah makin terjepit kuat, benar-benar tidak bisa lepas.

Tangan pria itu meraba dengan semakin bersemangat, terus-menerus meremas pipi bokongku. Sentuhan panas itu secara mengejutkan membuat aliran darahku mengalir hebat.

Dia bahkan menyelipkan satu jarinya, menyusuri celah di dalamnya.

Oh, geli sekali. Tubuhku sudah lama tidak disentuh pria. Jadi, saat ini rasanya seolah-olah ini adalah pengalaman pertamaku.

"Kencang banget ya, jarang-jarang ada cewek selembut ini di tempat pijat."

Seketika itu juga, aku merasakan sentuhan hangat, licin, dan lembut di pangkal pahaku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Saat Aku Terjepit di Pagar   Bab 7

    Kenapa sahabatku justru berdiri di pihak suamiku?Bukankah dia yang menyarankanku untuk melakukan hal ini dengan bos?Suamiku merangkul pinggang ramping sahabatku, matanya dipenuhi dengan tatapan cinta."Sayang, untung kamu ngasih tahu aku, kalau nggak aku bakal terus dibohongi."Apa!Suamiku memanggilnya sayang.Ternyata kalian sudah bersekongkol sejak awal, menggunakanku untuk memancing reaksi bos.Dalam kekalutan, aku tiba-tiba mengerti kenapa sahabatku terus mendorongku menggoda bos.Aku berdiri terpaku, kedua kakiku melemas karena terkejut.Sahabatku menggandeng lengan suamiku, menatapku dengan raut wajah pemenang."Aku jujur saja, waktu di tempat pijat itu, akulah yang nyuruh bosmu datang ke sana buat ketemu kamu, kejadian setelahnya persis seperti yang kuduga."Aku terkejut hingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Jadi, ternyata sahabatku sudah merencanakan jebakan ini untuk menjatuhkanku sejak lama.Tapi kenapa dia melakukan ini?Aku tidak tahan untuk bertanya, "Kamu s

  • Malam Saat Aku Terjepit di Pagar   Bab 6

    "Biar aku yang ambilin, kamu sudah kelihatan semuanya."Aku tersenyum dan berkata, "Kenapa harus takut kelihatan kamu? Waktu itu 'kan sudah kamu lihat semuanya?"Bos tersenyum tipis lalu menepuk pantatku pelan."Pintar juga ya? Nanti mampir ke kantorku sebentar."Perkataan bos itu sudah merupakan isyarat yang sangat jelas, mana mungkin aku tidak mengerti maksudnya?Pergi ke kantornya jelas bukan untuk membahas pekerjaan, pasti untuk hal semacam itu.Kalau dulu, aku pasti menolak, bahkan mungkin meremehkannya.Namun, sekarang situasinya sudah berbeda, perkataan sahabatku kembali terngiang di telingaku."Walau kamu tidur sama dia sekali pun, kamu nggak akan rugi."Aku menarik rokku sedikit lebih tinggi lagi hingga pangkal pahaku terlihat.Dengan penuh keyakinan, aku melangkah menuju kantor bos.Baru saja pintu terbuka, aku mendapati dia sudah tidak sabar dan celananya hampir terlepas.Melihat aku datang, dia duduk di kursi dan melambaikan tangan memanggilku mendekat."Waktu di tempat pij

  • Malam Saat Aku Terjepit di Pagar   Bab 5

    Setelah hari itu, aku mulai sengaja tidak sengaja berdandan lebih cantik. Aku mengganti sepatu hak tinggiku dengan model yang lebih ramping, ujung rokku pun sengaja kunaikkan beberapa sentimeter.Setiap kali bos melewati meja resepsionis, dia akan menatapku lebih lama, sesekali meninggalkan pujian yang bernada menggoda.Dasarnya aku memang memiliki paras yang segar dengan lekuk tubuh yang sintal, kaki jenjang, dan pinggang ramping. Ditambah dengan dandananku yang sengaja dibuat menonjol, seluruh penampilanku menjadi jauh lebih menggoda. Dulu aku selalu berusaha menutupi bentuk tubuhku karena takut mengundang tatapan yang tidak diinginkan, tapi sekarang aku justru mulai menikmati perhatian itu.Aku bahkan mulai menantikan pertemuan singkat dengan bos setiap harinya. Getaran tersembunyi yang bercampur rasa bersalah itu membuatku ketagihan.Angka di slip gajiku memang belum berubah, tapi aku tahu itu hanya masalah waktu. Perasaan ini membuatku merasa sangat gugup sekaligus bersemangat.Re

  • Malam Saat Aku Terjepit di Pagar   Bab 4

    Keesokan harinya, aku menceritakan kejadian ini kepada sahabatku di sebuah bar.Setelah mendengar ceritaku, sahabatku meneguk segelas anggur merah lalu berkata dengan nada bicara yang serius."Ini jelas bukan salah kamu, kamu juga nggak sengaja."Aku berkata pelan, "Tapi aku memang merasa enak, waktu itu aku hampir saja duduk di atasnya."Sahabatku menghentakkan gelasnya ke meja, menatapku dengan mata membelalak. "Sadar sedikit, dong, masa korban pelecehan masih dituntut buat nggak ngerasa apa-apa? Itu reaksi tubuh, bukan berarti kamu mau selingkuh."Dia menggenggam tanganku dan berkata dengan tegas, "Kamu nggak salah, yang salah itu bosmu. Dia yang melampaui batas, kamu cuma korban. Jangan hukum diri sendiri karena kesalahan dia."Aku ikut meminum segelas alkohol sambil merenungkan perkataan sahabatku. Sepertinya dia benar, bagaimanapun yang bersalah adalah bosku.Lagi pula kalau dipikir lebih jauh, bos itu jelas melakukan tindak kriminal. Kalau aku melapor ke polisi, dia benar-benar

  • Malam Saat Aku Terjepit di Pagar   Bab 3

    Sisa kewarasanku memperingatkan bahwa suamiku ada di belakang sana, aku benar-benar tidak boleh melakukan hal semacam itu.Karena ketakutan, aku refleks menarik tubuhku ke belakang, dan kepalaku justru terlepas dari jeratan itu.Aku meronta sekuat tenaga dari cengkeraman lengan pria itu hingga akhirnya terjatuh ke lantai dengan keras.Pantatku terasa sangat sakit akibat benturan tersebut.Pria itu menunduk untuk membantuku berdiri. Saat itulah cahaya lampu yang redup menyapu wajahnya dengan jelas.Pria itu bukan orang lain, melainkan bosku sendiri.Selama ini dia selalu terlihat sangat terhormat di kantor, tak kusangka di balik layar dia juga datang ke tempat seperti ini.Yang lebih gawat lagi, dia tadi hampir saja memperkosaku.Rasanya seperti disambar petir di siang bolong, kepalaku berdengung keras.Bos ini biasanya memperlakukanku dengan baik, sekarang bagaimana aku harus menghadapi situasi ini?Dibantu cahaya lampu yang remang-remang, bos sepertinya mulai mengenali wajahku.Dengan

  • Malam Saat Aku Terjepit di Pagar   Bab 2

    Ini, ini lidah ... pria itu?Dia menjilat dari pangkal pahaku, perlahan naik sedikit demi sedikit.Begitu menyadari apa yang ingin dilakukan pria itu, hatiku justru merasakan sebuah sensasi rangsangan.Suamiku ada tepat di depanku, sedang bercumbu panas dengan wanita lain.Akal sehatku mengatakan bahwa aku seharusnya menghentikan pria ini.Namun, perasaan yang sudah lama hilang ini ... rasanya ... sungguh menggairahkan dan nikmat.Seluruh darahku seakan mendidih, sel-sel di tubuhku seperti meledak karena sensasi yang hebat.Bagaimanapun juga ini tempat umum, pria ini seharusnya tidak sampai melakukan hal sejauh itu padaku, 'kan?Memikirkan hal itu, aku menenangkan diri dan perlahan menikmati sensasi dilayani dengan mulutnya.Kedua tangan pria itu menahan pantatku, lidahnya berputar liar di pangkal pahaku.Dia benar-benar ahli. Dia mengenai titik sensitifku hingga aku merasa ada aliran hangat yang mulai merembes keluar dari dalam tubuhku."Harumnya enak banget, lembut, rasanya bahkan l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status