“Aa—apa? Kamu … kamu yang membunuhnya?”Tuan Tiberon terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari Livia. Selama ini, ia berpikir istrinya meninggal karena sakit, tapi … ternyata itu salah.Livia mendekat satu langkah. Tangannya bersedekap sambil menatap Tuan Tiberon dengan jijik.“Aku benci padanya. Anggap saja itu hukuman karena sudah berselingkuh darimu. Bukankah kau bangga padaku, Ayah?”Tidak ada kalimat yang terucap dari Tuan Tiberon. Ia hanya diam sambil menunduk.“Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, aku mau tidur.”Livia dengan terang-terangan mengusir ayahnya. Tuan Tiberon hanya mengangguk, kemudian berjalan dengan gontai meninggalkan ruangannya.Putri yang selama ini ia besarkan ternyata bukan seorang malaikat, melainkan iblis.Keesokan paginya …Kabar pemecahan wilayah menyebar cepat bagai wabah. Di pasar, di pelabuhan bahkan hingga desa-desa
Read more