Elowen membeku sesaat.Pipi wanita itu langsung memerah samar mendengar ucapan Kael. Tatapannya turun perlahan, menghindari mata pria di depannya yang menatap terlalu dalam.“Kael …,” lirihnya pelan.Namun sebelum Elowen sempat mengatakan apa pun lagi, Kael sudah menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangatnya yang sangat erat. Seakan pria itu benar-benar takut kehilangan dirinya lagi.“Aku hampir mati hari ini,” bisik Kael rendah di telinganya.Nada suaranya tenang, tetapi justru itu yang membuat dada Elowen terasa sesak.“Aku pikir … aku tidak akan pernah melihatmu lagi.”Elowen menggigit bibirnya pelan. Jemarinya perlahan mencengkeram pakaian Kael.“Aku juga takut,” jawabnya jujur.Kael memejamkan mata sesaat sambil menyandarkan dagunya di atas kepala Elowen.Selama perang berlangsung, ia selalu terlihat kuat di depan semua orang. Seolah tidak ada yang m
Read more