Jasmine memaksa tubuhnya kembali tegak. Tatapannya menantang, meski jemarinya bergetar. “Aku tidak akan datang padamu. Jadi jangan bermimpi, Tuan Devil,” katanya tegas. Zein terkekeh pelan, bukan karena tersinggung, tapi terhibur. Panggilan baru itu, keberanian kecil yang gadis itu tunjukkan, justru membuat sorot mata Zein meredup dengan cara yang berbahaya. “Silakan, Nona Jasmine,” ucapnya ringan, namun nada suaranya justru membuat dada Jasmine semakin sesak. “Aku tidak perlu diyakinkan.” Satu lengannya masih melingkar di pinggang Jasmine. Tidak menekan atau meremas, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa kuasa itu masih ada di tangannya. Jasmine mengepalkan tangan, lalu berusaha bangkit dari pangkuan Zein, tak peduli lagi. Namun Zein menahan pinggangnya dengan satu gerakan cepat, tenang, dan terukur. “Mau ke mana?” tanya Zein. Jasmine menoleh ke arah troli makanan. “Makan. Aku lapar. Sejak pagi kau belum memberiku apa pun.” Ia mengangkat dagu, menegaskan keinginannya. “Sekaran
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya