Compartir

BAB. 56

last update Última actualización: 2026-02-16 22:37:22

Sekarang Zein mengerti, Jasmine benar-benar tidak tahu. Dan fakta itu menggeser sesuatu dalam dirinya. Bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi dorongan untuk mengendalikan kapan dan bagaimana gadis itu akan mengetahui kebenarannya.

Zein menatap sketsa di pangkuan Jasmine. Garis-garisnya tegas, tidak ragu, tidak goyah. Gadis ini bukan boneka, tapi seseorang telah membentuk hidupnya dengan presisi.

“Gambarmu bagus,” ucap Zein akhirnya.

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat sudut bibir Zein terangkat tipis
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 58

    Zein tetap di posisinya, tidak menjauh sedikit pun. Bibirnya tersungging tipis. Dengan setelan piyama hitam yang dikenakan dan rambutnya yang sedikit berantakan, ia tampak terlalu santai untuk seorang pria yang tiba-tiba muncul di kamar seorang gadis tengah malam.“Zein—!” Jasmine memukul ringan lengannya. “Kau bikin aku kaget! Bisa tidak masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu?!”Zein hanya mengangkat satu alis. “Pintunya tidak dikunci—”“Itu bukan berarti kamu boleh masuk seenaknya!” Wajah Jasmine memerah, entah karena marah atau karena jantungnya memang berdetak terlalu kencang. “Kamu tahu tidak? Jantungku hampir copot!”Zein menatap Jasmine dari samping, sebentar. Lalu sudut bibirnya terangkat lebih jelas. Sama sekali tidak terlihat bersalah, malah terkesan terhibur.“Tenang. Kalau copot, aku pasang lagi.”“Zein, kamu itu—” Belum sempat Jasmine menyelesaikan omelannya, pelukan Zein di pinggangnya mengerat. Jasmine langsung terkunci dalam lingkaran hangat yang kokoh.“Zein!” protesn

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 57

    Malam turun perlahan. Kamar Jasmine gelap, hanya diterangi cahaya lampu tidur yang temaram. Detik jam di dinding terdengar begitu jelas, terlalu keras untuk ruangan yang sunyi.Ia sudah mencoba memejamkan mata hampir satu jam, namun kantuk tak kunjung datang. Setiap kali kesadarannya mulai mengabur, suara Zein kembali bergema di kepalanya.“Mulai sekarang… kau harus lebih berhati-hati.”“Pada orang yang mulai memperhatikanmu terlalu serius.”Jasmine menghela napas pelan, lalu membalikkan tubuhnya ke sisi lain ranjang.“Aku harus berhati-hati…?” gumamnya lirih. “Pada siapa?”Di mansion ini, lingkarannya kecil. Para pelayan menjaga jarak, sementara para penjaga bahkan tak pernah berani menatapnya lama. Liam terlalu formal untuk dianggap ancaman.Dan Zein?Pikirannya terhenti di sana. Ia menatap kosong ke langit-langit.“Tidak. Pasti bukan dia.”Pikiran Jasmine berkecamuk tak menentu. Mustahil Zein memperingatkannya tentang dirinya sendiri—itu terasa sangat tidak masuk akal. Pria itu ter

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 56

    Sekarang Zein mengerti, Jasmine benar-benar tidak tahu. Dan fakta itu menggeser sesuatu dalam dirinya. Bukan sekadar rasa ingin tahu, tapi dorongan untuk mengendalikan kapan dan bagaimana gadis itu akan mengetahui kebenarannya. Zein menatap sketsa di pangkuan Jasmine. Garis-garisnya tegas, tidak ragu, tidak goyah. Gadis ini bukan boneka, tapi seseorang telah membentuk hidupnya dengan presisi.“Gambarmu bagus,” ucap Zein akhirnya.“Aku tahu.”Jawaban itu membuat sudut bibir Zein terangkat tipis. Percaya diri. Tidak haus validasi. Dan Zein suka itu.“Kau menggambar apa yang kau lihat?”“Kadang.”“Kadang?”“Kadang apa yang kulihat berbeda dari yang orang lain lihat.”Zein menatap Jasmine lebih dalam.“Kau sering merasa berbeda dari orang lain?”“Semua orang berbeda.”Jawaban yang aman, tapi cara Jasmine mengucapkannya tidak terdengar defensif.“Katamu keluargamu tidak pernah mengizinkanmu keluar,” ucap Zein ringan. “Mereka cukup protektif.”Pensil di tangan Jasmine berhenti sejenak, lal

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 55

    Zein tidak langsung bergerak. Tatapannya lurus dan dingin. “Cari alasan sebenarnya,” ucapnya akhirnya tanpa menoleh pada Liam. “Mengapa Michael mengadopsinya, dan mengapa dia disembunyikan.” Nada suaranya datar, tidak meninggi maupun tergesa-gesa. Namun perintah itu mutlak. “Segera.” “Baik, Tuan.” Liam menundukkan kepala singkat. “Saya mulai sekarang.” “Gunakan jalur yang tidak biasa,” tambah Zein. “Jika dokumen resminya bersih, berarti jawabannya ada di tempat lain.” “Saya mengerti.” Liam tidak bertanya lagi. Ia tahu, saat Zein sudah menyebut kata “segera,” itu berarti tidak ada ruang untuk kegagalan. Beberapa detik kemudian, pintu ruang kerja tertutup pelan. Sunyi kembali mengambil alih. Zein tetap berdiri, matanya menatap dinding kaca, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari yang terlihat. Michael bukan pria yang bertindak berdasarkan belas kasih. Mengadopsi seorang anak perempuan, menyembunyikannya dari publik, dan menjaganya seperti sesuatu yang sangat b

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 54

    Jasmine menangkap perubahan di wajah Zein, tapi ia memilih untuk tidak bertanya. Tatapan pria itu bergeser, bukan panik atau marah, melainkan seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan terakhir dari teka-teki yang sudah lama ia cari. Dengan perlahan, ia berdiri. “Kita bicara di ruang kerja,” ucapnya pada Liam, suaranya rendah dan tetap terkendali. Liam mengangguk singkat. Sebelum melangkah pergi, Zein sempat memandang Jasmine. Dalam, terukur, dan menghitung. Seolah ia sedang menilai ulang sesuatu yang sejak tadi duduk di hadapannya. Lalu ia berbalik dan pergi. Keheningan kembali menyelimuti ruang makan. Namun kali ini bukan keheningan yang tertata, melainkan keheningan yang menyimpan sesuatu di balik permukaan. Dan pagi yang tampak biasa itu, diam-diam berubah arah. Zein dan Liam sudah sampai di ruang kerja. Begitu pintu ruangan itu tertutup, dunia luar teredam sepenuhny

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 53

    Tok. Tok. Ketukan terdengar di pintu kamar Zein. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa di baliknya. “Masuk.” Pintu terbuka tanpa suara berlebihan. Liam masuk dengan langkah terukur. Wajahnya terkendali seperti biasa, hanya sorot matanya yang sedikit lebih waspada malam ini. Zein duduk santai di sofa. Botol minuman terletak di meja. Segelas whisky di tangannya belum tersentuh. “Katakan,” ucapnya, sudah tahu laporan apa yang akan disampaikan asistennya. Liam mengangguk singkat. “Para Ravelli bisa ditenangkan, Tuan. Mereka menerima penjelasan saya. Tidak ada yang mencurigai Nona Jasmine.” Zein mengangguk pelan. “Tapi,” Liam melanjutkan. Tatapan Zein terangkat, diam menunggu. “Nico,” ujar Liam akhirnya. “Dia tertarik pada Nona Jasmine.” Sunyi turun, berat. Ekspresi Zein tetap tidak berubah, justru semakin fokus. “Dia membaca situasi,” gumamnya pelan. “Dan selalu tertarik pada sesuatu yang seharusnya tidak boleh disentuh.” “Ya, Tuan.” Liam menahan jeda singkat. “Dia... jug

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status