Kegelapan malam di puncak Gunung Yu terasa begitu pekat. Di dalam sebuah kamar dengan dinding kayu yang kokoh, Liya perlahan membuka matanya. Rasa pening masih berdenyut di belakang kepalanya, sisa dari totokan jalan darah yang membuatnya kehilangan kesadaran di pasar tadi siang. Ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang kayu. Meski jauh dari kemewahan sutra di Paviliun Anggrek, tempat ini terasa hangat, bersih, dan berbau harum kayu cendana yang menenangkan. Liya mencoba duduk, memijat lehernya yang kaku, saat pandangannya tertuju pada sesosok bayangan di sudut ruangan. Seorang wanita tampak membelakangi Liya, jemarinya yang ramping bergerak terampil menyeduh teh di atas tungku kecil. "Kau sudah bangun?" tanya wanita itu tanpa menoleh. Suaranya rendah, jernih, namun memiliki wibawa. Liya mengedipkan mata berkali-kali, mencoba mengumpulkan sisa memorinya. "Aku ... di mana ini? Dan siapa kau?" Wanita itu meletakkan teko keramik, lalu membalikkan tubuhnya. Ia membawa seca
Read more