Di dalam kereta kuda yang membawa Liya dan Long Yuan pulang dari Akademi Shin Yue, ruang sempit itu penuh dengan isak tangis yang tertahan. Bahu Liya berguncang hebat, tangannya terkepal kuat. Rasa sesak di dadanya bukan hanya karena kehilangan lima ratus tael emas yang ia baru saja pinjam dari Tuan Su, melainkan karena harga dirinya yang diinjak-injak. Tuan Wen dan otoritas akademi telah menghakiminya tanpa bukti, menutup pintu kebenaran, dan memaksa dirinya membayar "uang tutup mulut" seolah-olah ia benar-benar seorang tersangka pembunuh.Tiba-tiba, sebuah tangan mungil yang hangat menyentuh pipinya. Long Yuan, yang sedari tadi diam membeku di sudut kereta, merangkak mendekat. Bocah itu menggunakan lengan bajunya yang halus untuk menghapus air mata Liya."Bibi, jangan menangis ... Bibi tidak bersalah," bisik Long Yuan, suaranya bergetar menahan tangisnya sendiri. Ia memeluk leher Liya dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu bibinya. "Makanan Bibi selalu enak. Yuan'er selalu
Read more