Senja mulai membayang di ufuk barat, namun di dalam ruang kerja pribadinya yang terletak di sudut terpencil Akademi Shin Yue, Chen Yuan merasa dunianya gelap gulita. Meja belajarnya berantakan. Kertas-kertas berserakan di lantai bak guguran daun di musim luruh. Ia mencoret baris puisi yang baru ditulisnya dengan kasar, meremas kertas itu hingga hancur, lalu melemparnya ke sembarang arah."Sial," umpatnya lirih. Wajahnya kusut masai, matanya cekung karena kurang tidur.Bayangan Murong Shi terus menghantuinya. Sudah beberapa hari wanita itu tidak menampakkan diri di sekolah, dan kerinduan itu perlahan berubah menjadi racun yang melumpuhkan daya pikirnya. Setiap kali ia mencoba menulis, hanya nama dan garis wajah Murong Shi yang muncul di benaknya.Tok, tok.Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. "Guru Chen? Ini aku, Yue Ning. Bolehkah aku masuk?"Chen Yuan menghela napas berat, mencoba merapikan tumpukan kertas di hadapannya. "Masuklah, Guru Yue."Pintu terbuka, menampakka
Read more