Cahaya bulan yang pucat menembus kisi-kisi jendela kamar Murong Lian. Ia menutup pintu kamarnya dengan senyum kepuasan yang masih tertinggal, membayangkan hati kakaknya, Murong Shi yang hancur karena kenyataan pahit tentang hal yang baru diketahuinya. Namun, sebelum ia sempat melangkah menuju ranjang, sebuah tangan kekar menyambar pinggangnya dari kegelapan. Lian tersentak pelan, namun sedetik kemudian ia tertawa kecil saat mengenali aroma tubuh pria itu. "Kau lama sekali, Lian. Aku sudah lama menunggumu di sini," bisik Murong Xie, suaranya serak dan penuh tuntutan. Lian berbalik dalam pelukan kakak tirinya, menyandarkan jemarinya di dada bidang Xie yang terbungkus sutra perak. "Sabar, Kak Xie. Aku harus memberikan sedikit 'hadiah perpisahan' untuk kakakku tercinta. Aku tahu kau tak sabar, matamu seharian tadi terus memandanginya, bukan?" Xie menyeringai gelap, matanya berkilat di bawah sinar lentera. "Kau selalu tahu apa yang kupikirkan. Sekarang, aku ingin melampiaskan se
Read more