"Oh... Jadi kau mengakuinya, ya?" Caelum menoleh ke arah Hery. Tatapannya tajam, penuh kemenangan seolah baru saja menangkap sesuatu yang penting. "Hery! Bawa kakak ke sini!""Baik, Yang Mulia!" Hery menunduk cepat, hampir refleks. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan berlari. Suara langkahnya menghilang di lorong. Detik-detik berikutnya terasa lebih panjang.Beberapa menit kemudian, langkah kaki kembali terdengar. Cepat. Tergesa. Hery muncul kembali di ambang pintu, kali ini tidak sendiri. Dengan sedikit dorongan yang canggung namun penuh usaha, ia mendorong Aldren hingga berdiri tepat di depan pintu kamar."Ada apa ini? Aku bilang, aku tidak ikut-ikutan!" ucap Aldren dengan tegas, namun suaranya terdengar lelah, seolah ia sudah bisa menebak kekacauan macam apa yang menunggunya."Alianne, kau suka perut pria, kan?" Magnus tersenyum nakal, menaikkan sebelah alisnya ke atas beberapa kali."Perasaanku tidak enak." Alianne berbali
Read more