“Apakah kami boleh membuka peti ini untuk memastikan isinya?” tanya salah satu prajurit.Lucas, yang duduk di kursi kusir, segera menyela dengan nada santai. “Oh, itu ayam kalkun,” katanya cepat. “Hadiah untuk koki istana. Nyonya Duchess membawa oleh-oleh dari desa.”Tentu saja, itu bohong.Kapten Hugo menatap Lucas dengan curiga, lalu melirik ke arah Kael. Kael hanya mengangkat bahu dengan wajah datar, seolah berkata, istriku memang kadang aneh.Untungnya, Kapten Hugo dan para prajuritnya tampak enggan membuka peti yang, menurut Lucas, berisi unggas berbau tajam. Perhatian mereka lebih tertuju pada pencarian senjata tajam, barang terlarang, lambang pemberontakan, atau benda apa pun yang dapat dijadikan bukti adanya niat makar.“Bagian dalam kereta bersih,” lapor salah satu prajurit penggeledah. “Tidak ada senjata tajam. Tidak ada lambang pemberontakan. Tidak ada benda mencurigakan.”Mendengar laporan itu, Hugo mengembuskan napas lega tanpa sadar.Jenderal yang selama ini ia kagumi te
続きを読む