Valeriana tidak segera menjawab.Untuk beberapa saat, ia hanya diam, membiarkan ingatannya perlahan menyeretnya kembali pada dunia yang pernah menjadi miliknya.Dunia lamanya muncul dalam potongan-potongan samar di benaknya. Jalanan kota yang selalu ramai, cahaya lampu yang berpendar di malam hari, deru kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Meja kerja sempit yang dipenuhi tumpukan berkas. Ponsel yang nyaris tak pernah berhenti berbunyi. Kamar kecil yang selalu menyambutnya ketika ia pulang dalam keadaan lelah, sendirian, setelah melewati hari yang panjang.Lalu, di antara semua bayangan itu, muncul wajah ayahnya.Ayahnya yang tinggal seorang diri di sana.Dada Valeriana terasa sesak.Dunia itu pernah menjadi rumahnya. Tempat ia tumbuh, hidup, tertawa, mengeluh, dan merasa begitu lelah pada rutinitas yang dahulu tampak membosankan. Ia merindukan dunia modernnya. Merindukan teman-temannya. Merindukan kemudahan-kemudahan kecil yang dulu tidak pernah ia syukuri.Namun, lebih d
Read more