Malam telah larut, menjelma dini hari yang lengang. Di balik jendela, badai yang semula mengamuk kini tinggal sisa rintik hujan tipis yang mengetuk kaca dengan irama pelan dan berulang. Namun di dalam kamar tidur utama, badai yang sesungguhnya justru baru dimulai.Bukan badai cuaca, melainkan badai di dalam kepala Kael de Vallas.Valeriana masih setia duduk di kursi di sisi ranjang. Kelopak matanya terasa berat, kantuk menumpuk seperti butir pasir di pelupuknya. Sepuluh menit lalu ia baru saja mengganti kompres di dahi suaminya. Suhu tubuh Kael masih tinggi, meski tak lagi sepanas saat ia roboh tak sadarkan diri.“Tidur nyenyaklah, Kael,” bisiknya lembut, jemarinya mengusap punggung tangan pria itu yang terkulai lemah di atas selimut.Valeriana berniat memejamkan mata sejenak, menyandarkan kepala di tepi kasur. Namun baru saja gelap menyentuh pandangannya, ranjang berguncang oleh gerakan tiba-tiba.Kael gelisah.Kepalanya menoleh cepat ke kanan dan ke kiri di atas bantal, seolah mengh
Last Updated : 2026-02-21 Read more