Sepeninggal Arthur, Kael kembali menutup pintu ruang kerjanya perlahan. Ia bersandar sejenak pada daun pintu, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Pertarungan mental barusan sungguh menguras tenaga. Namun di balik lelah itu, ada kepuasan yang sulit disembunyikan.Ia melangkah menuju jendela dan menatap kereta kuda Arthur yang semakin menjauh dari kediamannya. Ancaman yang diucapkan sang Pangeran bukanlah omong kosong. Kael tahu betul sifat Arthur, pendendam, ambisius, dan tak pernah rela melepaskan apa pun yang diinginkannya. Apa pun yang telah ia bidik, harus menjadi miliknya.Artinya, ini belum selesai.Serangan politik pasti akan datang, mungkin lebih cepat dari yang diperkirakan.Raut wajah Kael mengeras. Senyum tipisnya lenyap, digantikan oleh sorot tajam seorang jenderal yang siap menyambut medan perang.“Baiklah, Yang Mulia,” gumamnya lirih. “Jika kau menginginkan perang, aku akan meladeninya.”Tatapannya menggelap. “Tapi jangan pernah berpikir kau bisa menyentu
Zuletzt aktualisiert : 2026-02-13 Mehr lesen