Ketukan di pintu kamar terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Elena. Ia yang sejak tadi bergelung di balik selimut tebal, perlahan membuka mata yang sembap. Tubuhnya masih terasa lemas, namun ketukan itu terdengar begitu konstan dan mendesak, memaksa Elena untuk bangkit dengan langkah gontai. Saat pintu terbuka, seorang asisten rumah tangga berdiri dengan wajah pucat, memegang sebuah amplop besar berwarna cokelat dengan logo resmi pengadilan negeri. "Maaf mengganggu, Mbak Elena. Ada titipan surat penting untuk Mbak," ucap asisten itu dengan suara lirih, seolah tahu bahwa isi amplop tersebut membawa kabar buruk. Elena mengulurkan tangan yang dingin. Begitu jarinya menyentuh permukaan amplop, matanya langsung tertuju pada baris kalimat tegas di bagian depan: Surat Panggilan Sidang Perceraian. Seketika, bumi tempatnya berpijak terasa berputar. Elena menerima surat itu dengan tangan yang bergetar hebat. Jantungnya mencelos ke dasar lambung. Meskipun ia tahu hubungan mere
อ่านเพิ่มเติม