pintu kembali terbuka.Dengan keras.---“ELENA!”---Suara Desi terdengar panik.Tergesa.---Elena menoleh cepat.Terkejut.---Ibunya masuk dengan napas memburu.Wajahnya pucat.Rambutnya sedikit berantakan.Sangat tidak seperti biasanya.---“Ada apa, Ma?” Elena langsung mendekat.---Desi memegang meja.Seolah butuh penopang.---“Kita… kita dalam masalah besar…”---Deg.---Elena mengernyit.“Masalah apa?”---Desi menatapnya.Matanya terlihat cemas.---“Kerja sama kita… dengan klien luar negeri itu… diputus.”---Hening.---Beberapa detik—Elena tidak bergerak.---Lalu ia tertawa kecil.Namun terdengar dipaksakan.---“Ma… itu pasti cuma info sepihak,” katanya cepat.“Mungkin ada kesalahpahaman.”---Desi menggeleng keras.“Tidak, Elena! Aku sudah dapat kabar langsung—”---Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—pintu kembali diketuk.---Seorang asisten masuk.Wajahnya pucat.---“Maaf, Bu Elena… Bu Desi…”Suaranya gemetar.---Elena menatap tajam.“Apa?”---Asisten it
Read more