Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu rumah joglo, membawa kehangatan baru di ruang makan keluarga Wiryawan. Bau harum nasi goreng bumbu desa dan teh melati hangat menguar di udara, menemani sarapan bersama yang bising oleh celoteh riang."Momy... Momy ingat tidak janji kemarin?" Aleya mendongak dari piring kecilnya, menatap Sandra dengan mata bulatnya yang berbinar jenaka. Mulut mungilnya masih menyisakan sedikit butiran nasi.Sandra yang sedang menuangkan air putih tersenyum, mengusap puncak kepala putrinya. "Janji apa, Sayang?""Kemarin di tempat yang banyak lampu dan baju bagus, Aleya kan anak pintar. Aleya tidak rewel, tidak minta gendong, dan tidak nangis waktu jatuh," ujar Aleya dengan gaya bicara yang runut dan kritis, menghitung dengan jari-jari mungilnya. "Kata Momy, kalau Aleya pintar, Aleya boleh minta hadiah jalan-jalan!"Mendengar tuntutan polos bernada dewasa dari bocah tiga tahun itu, Wiryawan, Ratih, dan Hana yang sedang mengunyah makana
Mehr lesen