Hari-hari berjalan biasa bagi Sandra. Studionya memang selalu ramai hanya menambah jam saja. Di satu sudut, mesin jahit menderu tiada henti menyelesaikan pesanan di bawah komando Rian. Sementara di sudut lain, di bawah pengawasan Sandra, sepuluh gaun mahakarya untuk lelang amal Bu Nadine perlahan mulai mewujud. Potongan kain batik sutra bermotif kontemporer berpadu apik dengan brokat prada, menciptakan siluet anggun yang memukau mata.Hingga pada sore hari di hari kelima, deru mesin mobil yang sangat familiar memecah keheningan pekarangan rumah Joglo.Sandra yang baru saja keluar datang berhenti dan membalikkan badan. Jayadi melangkah turun dengan senyum lebar, disusul oleh Dewantara yang langsung mengancingkan jas kasualnya."Papa! Mas Tara!" seru Sandra, matanya berbinar riang menatap kedatangan dua pria itu."Halo, Sandra. Wah, menantu Papa makin bersinar saja setelah pameran kemarin," sapa Jayadi hangat, menepuk pelan bahu Sandra.Dari arah dalam rumah, Helen buru-buru keluar ber
Ler mais