Malam semakin larut ketika mobil hitam itu melaju menyusuri jalan kota yang mulai lengang. Di dalamnya, suasana hening begitu pekat, seolah udara enggan bergerak. Sadya duduk di kursi penumpang, menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Cahaya lampu jalan sesekali memantul di kaca, menerangi wajahnya yang pucat, bibirnya masih meninggalkan bercak merah samar akibat tamparan keras yang ia terima beberapa saat lalu.Dirgantara duduk di belakang kemudi, kedua tangannya menggenggam setir erat. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya sejak mobil meninggalkan rumah Sadya, meski hati dan pikirannya bergejolak hebat. Sadya memeluk dirinya sendiri, menarik napas panjang, berusaha menahan perih dan malu yang rasanya mencabik-cabik dirinya.Sadya ingin bicara, ingin menjelaskan sesuatu—apa saja. Tapi lidahnya kelu. Perempuan itu terlalu takut pada tatapan bosnya itu, tatapan yang begitu tenang namun seakan mampu menembus lapisan hatinya yang pa
Read more