Siang itu, udara Jakarta sedang panas-panasnya ketika Sadya turun dari taksi online. Satu tangannya membawa sebuah paper bag yang berisikan kotak makan berisi makanan kesukaan Arnesh. Tangan perempuan itu sempat bergetar kecil saat menatap gedung tempat suaminya bekerja—tinggi, dingin, dan penuh bayangan yang akhir-akhir ini terasa semakin asing baginya.Awalnya ia tak berniat datang. Namun entah dorongan apa yang membuatnya bangkit dari rumah pagi tadi, memasak, lalu tiba-tiba memutuskan mengantar makan siang untuk suaminya. Mungkin rindu, mungkin rasa ingin membuktikan sesuatu, mungkin... ketakutan. Ketakutan karena beberapa hari terakhir ia merasa Arnesh makin jauh, makin sulit disentuh, makin tidak bisa ditebak.Ketika ia minta izin ke resepsionis untuk naik, sepasang mata mengejarnya sebentar, mungkin karena Sadya jarang sekali muncul di kantor Arnesh, tapi ia tak peduli. Sadya hanya ingin memperbaiki sesuatu, meski ia sendiri tak tahu bagian mana dari hidupnya yang sebenarnya se
더 보기