Keheningan di dalam mobil SUV perak itu terasa lebih mematikan daripada jeritan Vanya sebelumnya. Adam terdiam, tangannya masih menggantung di udara, membeku. Sorot matanya yang tadi meledak-ledak kini meredup. Di sampingnya, Vanya terus terisak, napasnya pendek dan tersengal, sebuah serangan panik yang dipicu oleh kembalinya memori yang sempat hilang. "Vanya..." suara Adam berbisik, lembut namun terdengar seperti desisan ular di telinga Vanya. "Jangan sentuh aku!" Vanya memekik, tangannya meraba-raba gagang pintu mobil, mencoba membukanya, namun Adam telah mengunci otomatis tombol kunci itu. "Buka pintunya! Aku mau keluar!" Jerit Vanya nyaring. Matanya menatap marah kewajah Adam yang membeku. "Jadi, kamu sudah ingat semuanya?" "Cepat buka, Mas!" Vanya seolah tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut Adam. Saat ini, ia hanya ingin pergi dan mencari Devan. Adam tidak bergerak. Alih-alih membukakan pintu, ia justru menyandarkan punggungnya ke jok mobil, lalu per
Read more