Pagi itu, di dalam ruang kerja Devan di Rumah Sakit Medika yang biasanya tenang mendadak terasa mencekam, setidaknya bagi Devan. Karena saat ini, Vanya tengah berdiri di hadapan Devan dengan tatapan tajam yang sanggup mengiris nyali laki-laki dingin itu. Ia sengaja datang lebih awal menggunakan taksi online, menghindari jemputan Devan hanya untuk memberikan kejutan menginterogasi laki-laki yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. "Kenapa jadi kamu yang marah, Sayang? Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu nekat berangkat sendiri pagi-pagi begini," ucap Devan lembut, mencoba meredam suasana. Tanpa aba-aba, Vanya melangkah maju dan menarik kerah jas putih Devan dengan kuat, memaksa pria itu membungkuk sedikit ke arahnya. Devan terperanjat, matanya melirik cemas ke arah pintu ruangan yang sedikit terbuka. "Sayang! Ini di rumah sakit. Tolong, jaga sikapmu," bisik Devan sambil memegang pergelangan tangan Vanya, mencoba melepaskan cengkeraman gadis itu dari jas dokternya. "Lepas
Read more