“Sam, jangan biarkan dia lepas atau kita semua bakal terkunci di sini selamanya!”Suara Langit menggelegar, membelah keheningan dimensi bayangan yang permukaannya berupa air hitam pekat yang tak berujung. Begitu cahaya emas dari atap gedung apartemen tua itu meredup, mereka tidak lagi merasakan embusan angin malam. Di sini, udara terasa mati. Tidak ada bintang, tidak ada suara kendaraan, hanya ada hamparan air hitam yang tidak memantulkan bayangan apa pun.. seolah-olah identitas mereka pun telah dihapus oleh tempat ini.Samudra berdiri tegak sekitar lima meter di depan Cinta. Rambut hitamnya berkilat biru elektrik yang sangat pekat, auranya menekan permukaan air hingga menciptakan gelombang besar. Di hadapannya, Vanessa terjerembap. Gaun hijau zamrud wanita itu compang-camping, wajah cantiknya mulai retak, menyingkap kulit ular yang kelabu di balik pori-porinya.“Gue nggak bawa lo ke sini buat negosiasi, Vanessa,” desis Samudra.Suaranya rendah, dingin, dan penuh otoritas. Ia menga
Magbasa pa