Dingin malam di hutan tua itu terasa berbeda. Bukan dingin yang menyegarkan, melainkan dingin yang membawa aroma tanah kuburan. Cinta merayap di antara semak-semak berduri, matanya tertuju pada celah sempit di dinding timur Kuil Keabadian. Dinding batu itu tampak menghitam, bekas sambaran petir ribuan tahun lalu yang menurut Langit adalah satu-satunya titik lemah pertahanan kuil mistis ini.“Lang, gue di depan celah itu. Sempit banget, gue nggak yakin bisa masuk,” bisik Cinta pada anting peraknya.“Fokus, Cinta. Pakai api di telapak tangan lo, tapi jangan diledakkan. Buat pendar tipis buat melunakkan lumut yang membeku di sana supaya lo bisa seluncur masuk,” suara Langit bergema halus di telinganya, memberikan instruksi yang presisi.Cinta memejamkan mata. Ia membayangkan api emasnya sebagai kehangatan lilin. Begitu ia menyentuh dinding, es yang membatu mencair seketika. Dengan susah payah, ia menyelipkan tubuhnya ke dalam celah sempit itu, merayap masuk hingga ia tiba di sebuah lo
최신 업데이트 : 2026-03-17 더 보기