Langkah Scarlett tidak melambat sedikit pun. Koridor itu sempit dan pencahayaannya lemah, hanya deretan lampu dinding yang nyalanya setengah-setengah. Ia berjalan membawa koper tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Tidak perlu. Dari irama langkah yang terdengar di belakangnya, ia sudah tahu siapa yang sedang mengikuti. Langkah yang berusaha terdengar ringan, tapi justru terlalu bersemangat untuk bisa berhasil. "Ryan." Scarlett berhenti tepat di ujung koridor. "Ya, Pelatih?" "Aku sudah bilang keluar." "Dan aku sudah keluar dari kamar." Ryan muncul di belakangnya dengan senyum yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Tidak ada yang bilang harus berhenti sampai di sini juga, kan?" Scarlett berbalik. Tatapannya datar, bukan ekspresi marah, tapi jenis tatapan yang terasa lebih berat dari amarah manapun. Tatapan orang yang sudah sangat terbiasa membuat orang lain mundur satu langkah begitu kontak mata terjadi. Ryan tidak mundur. Ia bahkan terlihat santai, kedua
Read more