Hannah melotot, pipinya merah, lalu berbalik dan berjalan dengan langkah yang sangat tegas menuju koridor. Arahnya salah. "Salah jalan," kata Ryan dari balik sofa. "Tidak salah." "Itu kamarku." Hannah berhenti. Satu detik. Lalu tangannya meraih gagang pintu, mendorongnya, dan berdiri di ambang pintu dengan senyum paling menyebalkan yang pernah Ryan lihat sepanjang hidupnya. "Bukan lagi." Dia menoleh setengah badan. "Aku lagi liburan, mau temani Kak Celeste. Jadi untuk sementara, ini kamarku." Pintu tertutup. Dari dalam, tidak terdengar suara apa pun. Tidak ada tawa, tidak ada komentar tambahan. Yang lebih menyebalkan dari senyum itu adalah kenyataan bahwa Hannah sudah menang dan tidak merasa perlu merayakannya lebih lanjut. Ryan menatap pintu itu beberapa detik dengan ekspresi yang bahkan dirinya sendiri kesulitan mendefinisikannya. 'Satu perempuan di rumah ini sudah cukup menguras energi. Sekarang ada dua.' Dia berbaring di sofa, menatap langit-langit, dan memutuskan b
Read more