"Nyonya Emma, kalau nanti aku menang lawan Derek Walsh, dua mata ini tidak akan dihitung dosa lagi." Ryan menyeringai lebar, mencoba mengalihkan suasana dengan gurauan, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal. Emma mendengus, tapi ada seulas senyum tipis yang lolos di sudut bibirnya sebelum ia sempat menahannya. "Cuma dibayar dua mata? Kamu terlalu murah menghargai diri sendiri, Pak Satpam." "Nyonya Emma malah kasih diskon segitu doang? Terlalu pelit!" Ryan membalas dengan nada berlagak protes, meski matanya justru berbinar geli. "Kalau tidak mau, ya sudah, kembalikan saja penawarannya. Anggap tadi tidak pernah kejadian." Emma menyilangkan tangan di depan dada, pura-pura acuh, meski matanya diam-diam melirik reaksi Ryan, menunggu apakah pria itu benar-benar akan menyerah begitu saja. "Tidak, tidak. Diterima. Cuma protes doang, boleh, kan?" Ryan buru-buru mengangkat kedua tangan, seolah takut tawaran itu benar-benar ditarik kembali. Emma sudah terbiasa dengan sikap Ryan
Read More