Share

Bab 6

Author: Emerald
Aku merasa serba salah dan tak mampu membela diri.

"Pak Adrian, jangan marah. Aku percaya Kak Penny hanya terlalu khawatir saja, bukan sengaja," ujar Imelda sambil lembut menepuk-nepuk punggung Adrian. Lalu dia menatapku dan berkata, "Kak Penny, jangan salah paham. Tadi aku terlalu lelah, kepalaku agak sakit. Pak Adrian hanya ingin membantuku meredakannya supaya aku bisa lanjut bekerja."

"Kami semua melakukan ini demi perusahaan. Jangan berpikir macam-macam."

Aku menatap sorot matanya yang penuh kepuasan, seolah berharap aku berpikir lebih jauh. Meski tidak tahu keseluruhan ceritanya, aku yakin bahwa urusan ini pasti ulah Imelda.

Bagian HRD pandai membaca situasi. Dia tahu Imelda adalah orang yang paling disayang Adrian. Begitu menyadari suasana tidak beres, dia pun tidak berani mengatakan yang sebenarnya.

Lagi pula, sekalipun dia mengatakannya, Adrian mungkin tetap tidak akan percaya.

Aku diam saja, tetapi amarah Adrian belum juga reda. Dengan nada kesal, dia berkata keras, "Nggak perlu jelaskan apa pun padanya."

"Urusan pribadi adalah urusan pribadi, perusahaan tetap perusahaan. Karena sekarang berada di kantor, semuanya harus mengikuti aturan perusahaan!"

"Penny melanggar peraturan perusahaan. Bonus bulan ini dipotong seluruhnya, dan gajinya dipotong setengah."

Staf HRD buru-buru berkata, "Pak Adrian, Penny itu sudah ...." Dia tampaknya hendak menyebut soal pengunduran diriku. Namun sebelum kalimatnya selesai, Adrian menatapnya tajam dengan dingin.

"Aku nggak mau dengar alasan apa pun darinya. Lakukan saja seperti yang aku katakan!" Staf HRD tidak berani berbicara lagi dan segera berbalik turun.

Aku berpikir sejenak, lalu bersiap pergi. Namun, saat itu Adrian tiba-tiba memanggilku.

Mungkin setelah meluapkan amarahnya, kini dia terlihat jauh lebih tenang. Dengan nada seolah menasihati, dia berkata, "Penny, aku bukan sengaja menargetkanmu. Tapi ini adalah peraturan yang kubuat sendiri. Kalau aku nggak menghukummu, ke depannya aku bakal nggak dihormati."

Di sampingnya, Imelda mengangguk setuju. "Iya, Kak Penny. Lain kali kalau ada hal yang belum pasti, sebaiknya kamu tanya dulu ke Pak Adrian. Kalau memang nggak bisa, tanya aku juga boleh, kok."

Adrian mengangguk puas dan penuh apresiasi.

"Imelda sepenuh hati memikirkan perusahaan. Urusan perusahaan, dia lebih paham daripada siapa pun."

Setelah berkata demikian, dia kembali melotot ke arahku. "Nggak seperti kamu, seharian cuma tahu cemburu dan bertengkar. Selain itu, apa lagi yang bisa kamu lakukan? Nggak bisakah kamu belajar dari Imelda?"

Belajar apa?

Belajar bagaimana menyusup ke hubungan orang lain? Belajar bagaimana melancarkan provokasi terang-terangan maupun terselubung? Atau belajar bagaimana dengan sengaja merebut hasil kerja orang lain dan menjegal dari belakang?

Aku mencibir pelan, tetapi sudah malas membongkarnya satu per satu.

Melihat aku tidak berkata apa-apa, Adrian mengira aku sudah menyadari kesalahanku. Dia berjalan dua langkah ke arahku, merapikan kerah bajuku yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali, lalu berkata dengan nada seolah menasihati, "Aku tahu kenapa kamu bersikap seperti ini, dan terus terang aku memang sangat kecewa padamu."

"Tapi harus kuakui, sejak aku kembali kali ini, kamu memang jadi jauh lebih dewasa. Sebagai bentuk penghargaan, besok kita pergi foto prewedding dan mulai membahas pernikahan. Tapi kamu juga jangan terlalu senang dulu, menikah itu hanya ...."

"Menikah?" Aku tertawa ringan sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. Aku menepis tangannya. Lalu menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah kusiapkan ke hadapannya.

"Adrian, kita putus. Dan satu lagi, aku juga sudah mengundurkan diri. Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa pun lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 12

    Mendengar itu, Adrian tertegun."Setelah kita rujuk, perusahaan itu akan menjadi aset bersama kita. Nggak ada alasan untuk ragu dalam melindungi hak yang sah."Aku menyelipkan ponsel itu ke tangannya. Namun, Adrian lama sekali tidak menekannya."Penny, Imelda masih muda. Meskipun dia nggak punya jasa besar untuk perusahaan, setidaknya dia sudah banyak berkorban.""Kalau begitu, gimana denganku?" Aku menatapnya dengan senyuman mengejek. "Jadi, penderitaan dan kerugian yang kualami dulu, kamu anggap nggak pernah terjadi begitu saja?""Lagi pula, sekarang dia masih bebas di luar sana. Gimana aku bisa menjamin kamu nggak terlibat lagi dengannya? Kalau kamu mengirimnya masuk penjara, aku baru bisa bersamamu tanpa rasa khawatir."Aku berbisik pelan di dekat telinganya, seperti bisikan iblis.Adrian membelalak menatapku. Kata-kata itu seolah-olah memberinya keberanian. Dia menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi, lalu menekan tombol sambung."Halo ...."Namun, tepat saat sambungan terhu

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 11

    "Ngapain kamu ke sini lagi?" Aku memandangnya dengan tenang, seperti sedang melihat orang asing.Adrian tampaknya juga menyadarinya. Dia mengatupkan bibirnya, cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Penny, aku sudah putus dengan Imelda. Aku sudah memikirkannya lagi. Aku bersedia meninggalkan segalanya dan ikut kamu ke luar negeri.""Aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku sudah tahu aku salah. Aku akan cari cara untuk menangani perusahaan di dalam negeri, lalu melupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal."Aku menatap sorot matanya yang terlihat teguh, hanya merasa geli. "Kamu memang mau cari cara menangani, atau perusahaanmu memang sudah akan mengumumkan kebangkrutan dan likuidasi?"Meskipun aku sudah tidak lagi memperhatikan urusan Adrian, rekan kerja yang sebelumnya berteman denganku masih sesekali mengajakku mengobrol. Dia memberitahuku bahwa tidak lama setelah aku pergi, proposal yang ditangani Imelda mengalami masalah serius dan membutuhkan ganti rugi dalam jumlah besar.Karena

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 10

    "Penny, sungguh, aku benar-benar kalah olehmu. Kamu harus tahu, ini pertama kalinya aku mengalah pada seorang perempuan. Kamu boleh bergembira dalam hati. Kesabaranku pada Imelda bahkan nggak sampai sepersepuluh dari kesabaranku padamu ...."Melihat Adrian hendak kembali berbicara dengan penuh semangat, aku menyela, "Kamu salah paham."Aku mengambil dokumen di sampingku, lalu menunjukkannya ke arah kamera. "Aku sudah berimigrasi. Aku nggak akan kembali lagi."Saat telepon ditutup, Adrian di seberang layar tampak seperti belum bereaksi. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, bahkan kotak cincin di tangannya terjatuh ke lantai.Namun, aku tahu dia bisa mencerna semuanya dan juga bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Sejak dia berkali-kali menyulitkanku demi membela Imelda, seharusnya dia sudah memikirkan bahwa hari ini akan tiba.Urusan Adrian kali ini tidak lagi memengaruhiku. Aku menyingkirkan panggilan itu dari benakku dan mencurahkan seluruh perhatian pada penelitian.Mungkin karena meny

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 9

    Seiring berjalannya waktu, minatnya berubah lagi dan lagi. Sementara aku, dalam penelitian yang kulakukan hari demi hari, justru semakin tenggelam dan semakin sulit melepaskan diri.Selama bertahun-tahun ini, meskipun aku selalu berada di perusahaan Adrian, mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan robot, di waktu luang aku tetap memperhatikan perkembangan di bidang itu. Karena itu, saat kembali meneliti, aku tidak merasa terlalu kesulitan.Di tengah waktu itu, Adrian kembali mengirimiku beberapa pesan. Intinya, dia tetap tidak percaya bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya dan beberapa kali mencoba menawarkan jalan kembali. Namun, aku tidak membalas.Kemudian, Adrian mengirimiku beberapa foto lagi. Itu adalah surat pemberitahuan mutasi jabatan Imelda."Aku sudah menyelidikinya dengan jelas. Pengajuan pengunduran dirimu bukan aku yang menyetujuinya, tapi kesalahan operasional Imelda. Dia nggak tahu kalau orang yang mengajukan adalah kamu.""Sekarang aku su

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 8

    Kali ini aku tidak lagi dibuat bungkam oleh amarahnya. Aku mengeluarkan ponselku. "Kalau begitu, silakan kamu sampaikan kalimat itu ke polisi."Aku sebenarnya tidak berniat membuat keributan. Namun, aku sudah siap. Kalau dia terus memaksa tanpa alasan, aku akan benar-benar akan memutuskan hubungan dengannya.Melihat aku benar-benar menekan nomor polisi, Adrian langsung pucat. Dia melangkah maju untuk merebut ponselku, lalu memutus panggilan itu."Penny, kamu gila?""Aku nggak gila. Aku hanya ingin tahu, yang kamu katakan itu diakui oleh hukum atau nggak."Mungkin karena belum pernah melihatku berani melawan sejauh ini, Adrian terlihat panik. Dia mengatupkan bibirnya, lalu berkata, "Sudah, Penny, jangan ribut lagi. Aku tahu kamu keberatan soal Imelda. Mulai besok, aku nggak akan lagi bertemu dengannya sendirian, oke?""Soal pernikahan kita, aku akan langsung menjadwalkannya." Dia mengeluarkan ponselnya. "Wedding organizer ini sudah lama aku perhatikan. Setelah pulang dari perjalanan din

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 7

    Tubuh Adrian sedikit menegang.Sebaliknya, mata Imelda justru berbinar sesaat. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman puas. Meskipun dia segera kembali bersikap seperti biasa, aku tetap melihatnya dengan sangat jelas."Kak Penny, ucapanmu barusan agak berlebihan. Bagaimanapun kalian tetap ....""Sudah, Imelda, kamu keluar dulu." Sebelum Imelda sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian memotongnya dengan suara datar.Sisa kata-kata Imelda tertahan di mulut. Dia lalu berpura-pura menasihati Adrian agar tidak marah dan membicarakan semuanya baik-baik sebelum akhirnya turun dengan ekspresi puas.Setelah dia pergi, Adrian menatapku dengan dingin."Penny, kamu makin keterlaluan ya? Aku sudah setuju menikah denganmu, lalu kamu masih ribut apa lagi?""Tarik kembali ucapan putus itu. Surat pengunduran dirimu nggak akan kutandatangani. Sekarang sobek saja, anggap aku nggak pernah lihat."Melihat kepercayaan dirinya, aku merasa geli sekaligus sedih. Aku tahu, sikapnya yang seperti ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status