Share

Bab 2

Penulis: Emerald
Adrian menganggapku terlalu pelit dan pencemburu. Dalam kemarahannya, dia memberi alasan, "Kalau aku sudah dicurigai, lebih baik sekalian saja hubungan itu dibuat nyata."

Kemudian, dia memindahkan Imelda ke sisinya.

Semakin aku marah, dia semakin sengaja memihak Imelda. Dia membawa Imelda ke berbagai acara sosial, bahkan saat jamuan makan bersama perusahaan, dia terang-terangan mengambilkan makanan untuk Imelda dan menyeka mulutnya.

Aku bertengkar dengannya, dia memilih perang dingin. Aku meminta maaf, dia malah memanfaatkan kesempatan itu untuk bergandengan dengan teman-temannya, bersama-sama membujuk dan mengajariku.

Karena itu, aku pun sering merenung. Apakah aku memang tidak cukup lapang dada, sampai semuanya berakhir seperti ini?

Hingga perang dingin memasuki hari ketiga, aku sakit parah sampai terbaring di tempat tidur dan bahkan tidak mampu bangun. Akan tetapi, dia malah berpura-pura tidak melihat. Dia sengaja membereskan barang dan pergi berlibur bersama asistennya. Saat itulah aku benar-benar kecewa.

Akhirnya aku mengerti, dia hanya menjadikan alasan aku pencemburu sebagai dalih untuk terang-terangan melakukan pembenaran terhadap perilaku tidak bermoralnya sendiri. Bahkan seandainya dulu aku tidak melihat riwayat percakapan itu, Adrian tetap akan mencari alasan lain untuk bersama Imelda.

Beberapa waktu lalu, setelah mereka berdua pulang dari perjalanan dinas bersama. Meski masih seperti sebelumnya sering makan bersama, minum bersama, dan bermain olahraga bersama, aku bisa merasakan hubungan mereka sudah berubah menjadi sesuatu yang samar dan berbeda.

Namun untungnya, aku sudah tidak peduli lagi.

Hubungan lima tahun pun berakhir.

Sandiwara ini juga sudah seharusnya ditutup.

Setelah menyelesaikan proposal, di kantor hanya tersisa aku seorang diri. Aku membuka ponsel dan mendapati Imelda mengunggah beberapa status berturut-turut. Latar belakangnya adalah sebuah restoran barat. Di meja makan di depan mereka, cahaya lilin romantis menyala.

Adrian memegang pisau dan garpu dengan anggun, memotongkan steik untuk Imelda. Keterangan foto berbunyi.

[ Steik yang dipotong langsung sama presdir, pasti rasanya luar biasa. ]

Di kolom komentar, banyak rekan bisnis memuji betapa manisnya mereka berdua. Orang-orang yang tidak mengetahui hubungan kami bahkan bertanya kapan bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Adrian membalas dengan tiga titik, sementara Imelda mengirimkan emoji wajah "usil".

Seperti sebelumnya, dia tetap tidak memberikan klarifikasi apa pun.

Namun, kali ini aku tidak lagi seperti dulu. Aku tidak marah karena hubungan ambigu mereka, tidak menelepon Adrian lalu malah dimarahi olehnya, dituduh mentalitas runtuh hanya karena omongan orang lain.

Aku hanya mengirimkan satu pesan kepadanya, memberitahukan bahwa proposal sudah selesai. Setelah itu aku meletakkan berkas di kantornya, mengganti air minum sesuai permintaan, lalu menyetir pulang.

Baru saja sampai di rumah, ponselku berdering. Telepon dari Adrian.

"Kak Penny, ini Imelda. Soal proyeknya terima kasih ya, sudah merepotkan kamu. Lain kali aku traktir makan." Begitu tersambung, suara lembut Imelda terdengar dari seberang.

Aku belum sempat bereaksi, suara Adrian sudah terdengar di sampingnya. "Apa yang perlu diucapkan terima kasih? Itu memang sudah tugasnya."

"Pak Adrian, Kak Penny 'kan tunanganmu. Nada bicaramu yang lebih baik sedikit, dong," kata Imelda manja.

Kedekatan itu begitu alami, seolah merekalah sepasang kekasih.

Aku mendengus pelan, mentertawakan situasi itu.

Adrian yang biasanya tidak pernah lepas dari ponselnya, yang bahkan akan marah besar jika aku hanya meminjam ponselnya untuk melihat jam karena menganggap aku melanggar privasinya, kini malah dengan santainya menyerahkan ponselnya pada Imelda. Saat itu juga, batas kedekatan dan jarak sudah terlihat jelas.

Namun anehnya, hatiku malah terasa sangat tenang.

Hal-hal yang dulu terasa seperti langit runtuh, sekarang tampak biasa saja.

Adrian dan Imelda sempat berbincang sebentar lagi. Mungkin baru saat itu dia sadar aku masih mendengarkan, lalu berkata dengan nada asal, "Aku akan segera pulang. Kamu nggak perlu menungguku, istirahatlah lebih awal."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon.

Yang dia maksud dengan "segera" setidaknya empat atau lima jam. Dulu, setiap kali terjadi kejadian seperti ini, aku akan gelisah dan menunggu dengan cemas sampai dia pulang. Namun kali ini, aku sama sekali tidak memedulikannya.

Dengan hati yang tenang, aku masuk ke ruang kerja. Aku melirik kalender di atas meja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 12

    Mendengar itu, Adrian tertegun."Setelah kita rujuk, perusahaan itu akan menjadi aset bersama kita. Nggak ada alasan untuk ragu dalam melindungi hak yang sah."Aku menyelipkan ponsel itu ke tangannya. Namun, Adrian lama sekali tidak menekannya."Penny, Imelda masih muda. Meskipun dia nggak punya jasa besar untuk perusahaan, setidaknya dia sudah banyak berkorban.""Kalau begitu, gimana denganku?" Aku menatapnya dengan senyuman mengejek. "Jadi, penderitaan dan kerugian yang kualami dulu, kamu anggap nggak pernah terjadi begitu saja?""Lagi pula, sekarang dia masih bebas di luar sana. Gimana aku bisa menjamin kamu nggak terlibat lagi dengannya? Kalau kamu mengirimnya masuk penjara, aku baru bisa bersamamu tanpa rasa khawatir."Aku berbisik pelan di dekat telinganya, seperti bisikan iblis.Adrian membelalak menatapku. Kata-kata itu seolah-olah memberinya keberanian. Dia menarik napas dalam-dalam, menggertakkan gigi, lalu menekan tombol sambung."Halo ...."Namun, tepat saat sambungan terhu

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 11

    "Ngapain kamu ke sini lagi?" Aku memandangnya dengan tenang, seperti sedang melihat orang asing.Adrian tampaknya juga menyadarinya. Dia mengatupkan bibirnya, cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Penny, aku sudah putus dengan Imelda. Aku sudah memikirkannya lagi. Aku bersedia meninggalkan segalanya dan ikut kamu ke luar negeri.""Aku tahu kamu masih marah padaku, tapi aku sudah tahu aku salah. Aku akan cari cara untuk menangani perusahaan di dalam negeri, lalu melupakan semuanya. Kita mulai lagi dari awal."Aku menatap sorot matanya yang terlihat teguh, hanya merasa geli. "Kamu memang mau cari cara menangani, atau perusahaanmu memang sudah akan mengumumkan kebangkrutan dan likuidasi?"Meskipun aku sudah tidak lagi memperhatikan urusan Adrian, rekan kerja yang sebelumnya berteman denganku masih sesekali mengajakku mengobrol. Dia memberitahuku bahwa tidak lama setelah aku pergi, proposal yang ditangani Imelda mengalami masalah serius dan membutuhkan ganti rugi dalam jumlah besar.Karena

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 10

    "Penny, sungguh, aku benar-benar kalah olehmu. Kamu harus tahu, ini pertama kalinya aku mengalah pada seorang perempuan. Kamu boleh bergembira dalam hati. Kesabaranku pada Imelda bahkan nggak sampai sepersepuluh dari kesabaranku padamu ...."Melihat Adrian hendak kembali berbicara dengan penuh semangat, aku menyela, "Kamu salah paham."Aku mengambil dokumen di sampingku, lalu menunjukkannya ke arah kamera. "Aku sudah berimigrasi. Aku nggak akan kembali lagi."Saat telepon ditutup, Adrian di seberang layar tampak seperti belum bereaksi. Seluruh tubuhnya membeku di tempat, bahkan kotak cincin di tangannya terjatuh ke lantai.Namun, aku tahu dia bisa mencerna semuanya dan juga bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Sejak dia berkali-kali menyulitkanku demi membela Imelda, seharusnya dia sudah memikirkan bahwa hari ini akan tiba.Urusan Adrian kali ini tidak lagi memengaruhiku. Aku menyingkirkan panggilan itu dari benakku dan mencurahkan seluruh perhatian pada penelitian.Mungkin karena meny

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 9

    Seiring berjalannya waktu, minatnya berubah lagi dan lagi. Sementara aku, dalam penelitian yang kulakukan hari demi hari, justru semakin tenggelam dan semakin sulit melepaskan diri.Selama bertahun-tahun ini, meskipun aku selalu berada di perusahaan Adrian, mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan robot, di waktu luang aku tetap memperhatikan perkembangan di bidang itu. Karena itu, saat kembali meneliti, aku tidak merasa terlalu kesulitan.Di tengah waktu itu, Adrian kembali mengirimiku beberapa pesan. Intinya, dia tetap tidak percaya bahwa aku benar-benar akan meninggalkannya dan beberapa kali mencoba menawarkan jalan kembali. Namun, aku tidak membalas.Kemudian, Adrian mengirimiku beberapa foto lagi. Itu adalah surat pemberitahuan mutasi jabatan Imelda."Aku sudah menyelidikinya dengan jelas. Pengajuan pengunduran dirimu bukan aku yang menyetujuinya, tapi kesalahan operasional Imelda. Dia nggak tahu kalau orang yang mengajukan adalah kamu.""Sekarang aku su

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 8

    Kali ini aku tidak lagi dibuat bungkam oleh amarahnya. Aku mengeluarkan ponselku. "Kalau begitu, silakan kamu sampaikan kalimat itu ke polisi."Aku sebenarnya tidak berniat membuat keributan. Namun, aku sudah siap. Kalau dia terus memaksa tanpa alasan, aku akan benar-benar akan memutuskan hubungan dengannya.Melihat aku benar-benar menekan nomor polisi, Adrian langsung pucat. Dia melangkah maju untuk merebut ponselku, lalu memutus panggilan itu."Penny, kamu gila?""Aku nggak gila. Aku hanya ingin tahu, yang kamu katakan itu diakui oleh hukum atau nggak."Mungkin karena belum pernah melihatku berani melawan sejauh ini, Adrian terlihat panik. Dia mengatupkan bibirnya, lalu berkata, "Sudah, Penny, jangan ribut lagi. Aku tahu kamu keberatan soal Imelda. Mulai besok, aku nggak akan lagi bertemu dengannya sendirian, oke?""Soal pernikahan kita, aku akan langsung menjadwalkannya." Dia mengeluarkan ponselnya. "Wedding organizer ini sudah lama aku perhatikan. Setelah pulang dari perjalanan din

  • Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya   Bab 7

    Tubuh Adrian sedikit menegang.Sebaliknya, mata Imelda justru berbinar sesaat. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyuman puas. Meskipun dia segera kembali bersikap seperti biasa, aku tetap melihatnya dengan sangat jelas."Kak Penny, ucapanmu barusan agak berlebihan. Bagaimanapun kalian tetap ....""Sudah, Imelda, kamu keluar dulu." Sebelum Imelda sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian memotongnya dengan suara datar.Sisa kata-kata Imelda tertahan di mulut. Dia lalu berpura-pura menasihati Adrian agar tidak marah dan membicarakan semuanya baik-baik sebelum akhirnya turun dengan ekspresi puas.Setelah dia pergi, Adrian menatapku dengan dingin."Penny, kamu makin keterlaluan ya? Aku sudah setuju menikah denganmu, lalu kamu masih ribut apa lagi?""Tarik kembali ucapan putus itu. Surat pengunduran dirimu nggak akan kutandatangani. Sekarang sobek saja, anggap aku nggak pernah lihat."Melihat kepercayaan dirinya, aku merasa geli sekaligus sedih. Aku tahu, sikapnya yang seperti ini

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status