Kabut di bibir jurang bergerak seperti makhluk hidup, melingkari tebing dan kaki-kaki kuda yang gelisah.Zhao Fenglin berdiri tegak di tengah lingkaran musuh. Darah menetes dari ujung jarinya, membasahi gagang pedang hingga licin. Napasnya berat, namun sorot matanya tetap setenang dan sedingin malam.Huo Ren menurunkan pedangnya sedikit.Dari jalur utara, derap kuda semakin jelas. Belasan penunggang muncul membawa obor, berhenti di kejauhan tanpa mendekat. Mereka mengenakan pakaian biasa, seperti pasukan pengawal perjalanan, namun gerakan mereka terlalu rapi untuk orang biasa.Benar kata Huo Ren.Mereka adalah saksi. Saksi yang akan membawa kabar ke ibu kota.Huo Ren tersenyum tipis. “Lihat? Bahkan langit malam pun ingin menyaksikan akhir hidupmu.”Zhao Fenglin menoleh sekilas ke arah rombongan baru itu, lalu kembali menatap Huo Ren.“Kalau begitu,” katanya datar, “kau pasti sangat takut aku masih bernapas.”Senyum Huo Ren memudar. Ia mengangkat tangan memberi titah. “Habisi dia.”De
Baca selengkapnya