"Wah, walaupun villanya kecil, tapi nyaman banget ya, Mas. Udaranya sejuk, pas banget buat kita yang lagi butuh pelarian dari hiruk pikuk kota," ucap Sarah sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan angin pegunungan menyapu wajah cantiknya yang khas Timur Tengah.Pram mengangguk setuju sambil menghempaskan pantatnya di kursi rotan yang ada di teras. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya. Asap putih mengepul pelan, berbaur dengan kabut tipis yang mulai turun. "Bener, Sar. Tenang banget di sini. Jauh dari omelan majikan atau suara klakson mobil."Tak lama kemudian, Sarah muncul dari dalam membawa dua gelas kopi yang uapnya masih mengepul. Ia meletakkan kopi hitam pekat di depan Pram dan menyesap kopi susunya sendiri. "Mas, tadi aku cek kulkas, ternyata pemilik villanya baik banget. Sudah disediain bahan makanan mentah. Mau aku masakin sesuatu buat makan siang?"Pram menoleh, menatap Sarah dengan binar jenaka. "Masak sendiri? Ah, nggak asyik do
Last Updated : 2026-02-24 Read more